Banyak perusahaan mulai mendapat pertanyaan dari investor, klien korporat, mitra bisnis, maupun regulator mengenai komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance). Di sisi lain, tidak sedikit organisasi yang merasa penerapan ESG adalah sesuatu yang benar-benar baru dan rumit. Padahal, perusahaan yang telah memiliki sertifikasi ISO sering kali sudah mempunyai fondasi yang kuat untuk mendukung ESG.
Oleh karenanya, pada kali ini kami akan membantu pembaca memahami sejauh mana sertifikasi ISO yang dimiliki telah mendukung penerapan ESG serta apa saja yang masih perlu dilengkapi.
Mengapa Perusahaan Mulai Membutuhkan Bukti ESG yang Terverifikasi?
ESG kini bukan lagi sekadar tren global. Di Indonesia, penerapan keuangan berkelanjutan telah memiliki dasar regulasi melalui POJK Nomor 51/POJK.03/2017 yang mewajibkan Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik menerapkan keuangan berkelanjutan serta menyusun laporan keberlanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, banyak investor, pelanggan korporat, dan mitra rantai pasok juga mulai meminta bukti penerapan ESG yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apa bedanya ESG dengan CSR? CSR umumnya berfokus pada program tanggung jawab sosial perusahaan.
Sementara itu, ESG menilai bagaimana organisasi mengelola aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola melalui indikator yang dapat diukur serta diverifikasi.
Di sinilah sertifikasi ISO memiliki nilai tambah karena menunjukkan bahwa sistem manajemen perusahaan telah melalui proses audit oleh pihak independen.
Baca juga: 10 Klausul ISO 14001 dan Penjelasannya, Apa Saja?
Pilar E (Environmental) Berkaitan Erat dengan Lingkungan
Standar ISO berikut berkontribusi langsung pada aspek lingkungan dalam ESG:
- ISO 14001 membantu organisasi mengidentifikasi, mengendalikan, dan meningkatkan pengelolaan dampak lingkungan dari kegiatan operasional. Sertifikasi ini menjadi bukti terverifikasi bahwa perusahaan telah menerapkan sistem manajemen lingkungan yang terdokumentasi.
- ISO 50001 mendukung pengelolaan energi secara lebih efisien sehingga dapat membantu perusahaan mengurangi konsumsi energi dan mendukung target penurunan emisi.
Apabila perusahaan telah tersertifikasi ISO 14001, sebagian dokumentasi yang dibutuhkan pada aspek lingkungan umumnya sudah tersedia dan dapat menjadi salah satu referensi dalam penyusunan laporan keberlanjutan.
Pilar S (Social) Poin Penting Kontribusi Sosial
Untuk aspek sosial, beberapa standar ISO juga memberikan kontribusi yang kuat.
- ISO 45001 berfokus pada sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja melalui identifikasi bahaya, pengendalian risiko, serta peningkatan budaya K3. Hal ini mendukung indikator sosial yang berkaitan dengan perlindungan pekerja.
- ISO 26000 memberikan panduan mengenai tanggung jawab sosial organisasi, termasuk hak asasi manusia, hubungan dengan masyarakat, praktik ketenagakerjaan, dan perilaku etis.
Perlu dipahami bahwa ISO 26000 bukan standar sertifikasi. Standar ini berfungsi sebagai pedoman sehingga kontribusinya terhadap ESG lebih berupa arahan implementasi daripada bukti verifikasi formal.
Pilar G (Governance) Sebagai Pendukung Tata Kelola
Aspek tata kelola dalam ESG juga dapat diperkuat melalui beberapa standar ISO yang sudah banyak diterapkan perusahaan.
- ISO 9001 membantu organisasi membangun proses yang terdokumentasi, meningkatkan konsistensi operasional, memperkuat kepemimpinan, serta memastikan tanggung jawab manajemen berjalan dengan baik.
- ISO 31000 menyediakan kerangka kerja pengelolaan risiko yang membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih terarah dan memperkuat praktik tata kelola.
Kombinasi kedua standar tersebut membantu perusahaan menunjukkan bahwa proses bisnis dan pengambilan keputusan telah dikelola melalui pendekatan yang terstruktur.
Apa yang Mungkin Belum Dicakup Sertifikasi ISO Anda?
Walaupun sertifikasi ISO memberikan fondasi yang kuat, penerapan ESG tidak berhenti pada kepemilikan sertifikat. Perusahaan masih perlu melengkapi beberapa aspek agar implementasi ESG lebih menyeluruh, antara lain:

- Data kuantitatif, seperti emisi karbon, tingkat kecelakaan kerja, konsumsi energi, atau keberagaman tenaga kerja sebagai bagian dari pelaporan ESG.
- Kerangka pelaporan keberlanjutan, misalnya Global Reporting Initiative (GRI), agar informasi ESG dapat disusun secara konsisten dan mudah dipahami para pemangku kepentingan.
- Panduan implementasi ESG, seperti IWA 48:2024, yang membantu organisasi menyelaraskan penerapan ESG dengan standar ISO yang telah dimiliki. Perlu diketahui bahwa IWA 48:2024 bukan standar sertifikasi maupun kerangka pelaporan, melainkan panduan implementasi.
PT Smart Sertifikasi Indonesia telah mendampingi lebih dari 170 perusahaan selama lebih dari 7 tahun dalam penerapan berbagai sistem manajemen.
Kami membantu organisasi melakukan gap analysis untuk mengetahui sejauh mana sertifikasi ISO yang telah dimiliki mendukung kebutuhan ESG, sekaligus memberikan pendampingan agar penerapan sistem berjalan lebih optimal.
Sertifikasi ISO dapat menjadi fondasi yang kuat dalam membangun ESG, tetapi bukan satu-satunya unsur yang diperlukan.
Dengan memahami bagian yang sudah didukung dan aspek yang masih perlu dilengkapi, perusahaan dapat menyusun strategi ESG yang lebih terarah sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi tuntutan investor, pelanggan, maupun regulator.
Jika Anda ingin mengetahui sejauh mana sistem yang dimiliki telah mendukung ESG, tim PT Smart Sertifikasi Indonesia siap membantu melalui proses konsultasi dan gap analysis.
FAQ
Apakah sertifikasi ISO otomatis membuat perusahaan memiliki rating ESG yang baik?
Tidak. Sertifikasi ISO memperkuat fondasi ESG melalui sistem yang telah diaudit, tetapi penilaian ESG juga mempertimbangkan kinerja, keterbukaan informasi, indikator kuantitatif, serta metodologi lembaga pemeringkat yang digunakan.
Apakah perusahaan non-publik juga perlu mempersiapkan ESG?
Ya. Walaupun kewajiban formal tertentu ditujukan kepada Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik, banyak perusahaan non-publik kini diminta menunjukkan komitmen ESG oleh pelanggan korporat, mitra rantai pasok, investor, maupun lembaga pembiayaan.
Apakah perusahaan harus menerapkan IWA 48:2024?
Tidak. IWA 48:2024 bersifat sukarela sebagai panduan implementasi ESG dan dapat digunakan untuk melengkapi standar ISO yang telah diterapkan, tetapi bukan merupakan standar sertifikasi maupun kewajiban regulasi.
